Selasa, 06 Maret 2018

soom poto


37 rumah tersapu puting beliung di wonorejo kabupaten tulungagung



37 Rumah di Wonorejo Tersapu Puting Beliung 

Selasa, 06-03-2018 - 09:53 WIB
Puting Beliung kembali porak porandakan desa desa di wilayah kabupaten Tulungagung. Kali ini Desa Wonorejo Kecamatan sumbergempol puting beliung meluluhlantakan sedikitnya 37 rumah.Ke 37 rumah tersebut mengalami kerusakan ringan dan berat serta beberapa kandang ternak tertimpa pohon ambruk.
Korban hewan 3 sapi karena terjepit kandang yang tertimpa pohon yang tumbang.
warga saling gotong royong bahu membahu menyisihkan daun dan ranting pohon serta menyelamatkan ternak yang kandangnya tertimpa pohon,sehingga ternak nya cepat dapat tertolong.Dengan kekuatan gotong royong warga" sapi yang naas itu sampai saat ini bisa hidup" kata warga.
Data yang kami peroleh dari pihak kecamatan akibat hujan lebat di sertai angin puting beliun itu 37 rumah mengalami rusak ringan sampai rusak berat.Camat sumbergempol menuturkan tentang penangan pasca musibah itu "Pihak kecamatan langsung droping material, bagi warga yang rumahnya rusak dan telah didata kami minta mengambil di Balaidesa," jelasnya.
Material yang dimaksud menurut Galih adalah berupa genteng jenis press 1500 biji, 700 biji jenis prenthul dan 85 esbes. 
Dari pantauan kami warga telah mulai melakukan pembenahan bagi rumah yang rusak.Warga di bantu pihak aparat TNI BPBD dan Polri ikut membersihkan pohon yang tumbang baik di pinggir jalan raya atau di dalam perkampungan juga sudah mulai dibersihkan.  

Selasa, 27 Februari 2018

ASN dan Kepala desa kabupaten tulungagung apa sudah Netral dalam pilkada?

Pemilukada Tulungagung
Geliat Pemilihan Bupati dan wakil bupati kabupaten tulungagung ramai dan di sambut antusias warganya.Gambar pasangan calon bertebaran di mana mana bahkan kedua belah pihak saling diam dengan PKPU no 4 tentang pemasangan baliho sekabupaten tulungagung yang hanya berjumplah 13 itu.Kedua pasangan calon memasang baliho melebihi jumplah itu,masyarakat tidak protes panwas pun tidak berkutik dengan itu semua.karena saya yakin kedua pasangan calon sudah mendapatkan surat teguran untuk melepas balihonya.
Indikasi pelanggaran diantara kedua pasangan calon itu bisa diamaafkan.Dalam pemilukada keadilan merupakan prasyarat yang di junjung tinggi oleh kedua pasangan calon.Calon inkamben harus patuh dengan PKPU tentang larangan menggunakan pasilitas negara untuk kampanye.Pasilitas negara dalam PKPU itu cukup tegas disebutkan antara lain:calon inkamben dilarang melibatkan ASN,kepala desa/Lurah ikut mendukung dan terlibat langsung menjadi penggerak pengumpulan masya.Tapi larangan PKPU itu pun masih sumir sekali,karena aturan ASN,Kepala desa itu tdk detail,sehingga pemilukada tulungagung cenderung melanggar aturan itu,bahkan sudah sangat sangat meresahkan pasangan calon lainnya.inilah ketidak adilan pemilukada yang ada di wilayah Tulungagung.Pertanyaannya apakah panwas tidak tau atau panwas tidak mendapat laporan tentang itu?Kedua pertanyaan itu selalu menjadi pertanyaan besar.
Pemilu kada kabupaten tulungagung kelihatan damai dan ayem tentrem,belum kelihatan berita HOAX,Kampanye Sara dan kampanye hitam.kedua pasangan masih menggunakan kampanye yang santun dan baik serta visi misi masing masing.semoga kampanye yang baik itu berjalan terus sehingga kabupaten tulungagung memperoleh pemimpin yang visioner untuk tulungagung lebih maju.
Harapan masyarakat:1.panwas proaktif terjun kelapangan supaya pelanggaran bisa cepat dicegah.2.ASN dan kepala desa bisa netral.
Kedua persoalan itu menjadikan pemilukada kabupaten tulungagung bisa bermartabat.sukses tulungagung sukses warganya.

Minggu, 25 Februari 2018

MARGIONO KANDIDAT BUPATI RASA GUBERNUR.

SBY DATANG KETULUNGAGUNG DALAM RANGKA MEMENANGKAN PASANGAN CABUB DAN CAWABUB MARGIONO EKO PRISDIANTO
SABTU TANGGAL 24 PEBRUARI 2018 JAM 15.00 WIB DI BARATA KELIHATAN RAMAI PENGUNJUNG.BIARPUN CUACA TIDAK BERSAHABAT HUJAN CUKUP LEBAT MASYARAKAT TULUNGAGUNG MEMADATI AREA BARATA.
TEPAT PUKUL 15.00 MASYARAKAT TULUNGAGUNG SUDAH MASUK KEACARA BPK SUSILO BAMBANG YUDOYONO ( SBY ) KETUA UMUM DEMOKRAT MEMASUKI ARENA PERTEMUAN.
DARI KEJAHUAN TERIAKAN "MASUK PAK EKO,MARGIONO BUPATI,TULUNGAGUNG LEBIH BAIK,SBY YES TERUS DI KUMANDANGKAN.KEMERIAHAN ACARA ITU KELIHATAN DARI JUMLAH MASYARAKAT YANG ANTUSIAS MENEMPATI KURSI YANG SUDAH DISEDIAKAN PANITIA.KELIHATAN KURSI PENUH DAN DI LUAR MASIH BANYAK MASYARAKAT SAMBIL BERDIRI NGOBROL.
ACARA DIMULAI DENGAN MENYANYIKAN LAGU INDONESIA RAYA DAN DI TERUSKAN OLEH PIDATO KETUA PANITIA BAPAK IMAM KAMBALI,SE.MSi,LALU DILANJUTKAN BAPAK MARGIONO EKO DAN SBY.
DALAM SAMBUTANNYA BAPAK IMAM KAMBALI,SE.MSi.MENGULAS TENTANG INFRASTRUKTUR TULUNGAGUNG YANG RUSAK,MENGULAS TENTANG JEMBATAN YANG GAGAL DIBANGUN,LAPANGAN TERBANG YANG TDK JADI DI TULUNGAGUNG DAN SERAGAM PENDIDIKAN SD,SLTP NEGRI SAJA YANG DAPAT,BAGAIMANA DENGAN SWASTA?SEMUA PERTANYAAN ITU DI JAWAB HADIRIN DENGAN GANTI GANTI GANTI.
BERBEDA DENGAN BAPAK MARGIONO DENGAN GAYA PIDATONYA LUWES,ENAK SERTA LUCU MEMAPARKAN SEDIKIT TENTANG PARIWISATA DAN DESA SMART YANG DICANANGKAN UNTUK TULUNGAGUNG.SEBELUM MEMAPARKAN VISI MISINYA BAPAK MARGIONO MENCERITAKAN TENTANG KEDEKATANNYA DENGAN BAPAK SBY.
BERBEDA PULA DENGAN GAYA PIDATONYA SBY YANG SANTUN TERSTRUKTUR.
GAYA PIDATO MEREKA MEMANG BERAGAM DAN PENDUKUNG NYA BERAGAM PULA.SEMOGA BERHASIL APA YG DI CITA CITAKAN.

Senin, 16 Januari 2017

Hari ini tanggal 16 januari 2017 wakil presiden bapak yusuf kala datang ketulungagung untuk mengunjungi pondok pesantren moderen yang terletak di desa pandaan.dalam kunjungannya ke wilayah desa pandaan bapak wakil presiden juga menyempatkan mampir kependopo kabupaten tulungagung dan di teruskan ke pondok pesantren moderen.dalam kesempatan kunjungan ke daerah bapak wakil presiden juga sempat melihat pembangunan desa pandaan dari dana add dan dd,kepuasan bapak wakil presiden terlibat dari mimik mukanya yang manggut mangut dan tersenyum puas.
SIARAN PERS



Gerakan Antropolog untuk Indonesia yang Bineka dan Inklusif (AUI)

Antropolog Minta Presiden Akhiri Intoleransi

JAKARTA, SENIN --  Presiden diminta menindak tegas sesuai hukum  siapa pun yang bersikap intoleran dan menggunakan kekerasan dalam menyikapi perbedaan suku, agama, ras, dan pandangan. Dinamika sosial-politik akhir-akhir ini jelas memperlihatakan bahwa nilai-nilai kebinekaan Indonesia, termasuk semboyan Bhinneka Tunggal Ika sedang terus menerus digerus.
Demikian antara lain terungkap dalam  dialog antara para antropolog yang tergabung dalam Gerakan Antropolog untuk Indonesia yang Bineka dan Inklusif  (AUI) dengan Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta,  Senin (16/1).
“Kami juga meminta Panglima Tentara Nasional Indonesia dan Kepala Kepolisian Republik Indonesia agar merangkul seluruh rakyat dalam menjalankan tugas dan meletakkan kepentingan negara dan bangsa yang beragam di atas kepentingan golongan dan kelompok tertentu. Penegakan hukum harus dilakukan demi Tanah Air, bukan semata-mata  karena tekanan massa,” kata Drs. R. Yando Zakaria, penggagas AUI.
Di antara 12 anggota delegasi yang ikut diterima Presiden juga tampak antara lain Prof. Dr. Amri Marzali dari Universitas Indonesia; Prof. Dr. P.M. Laksono dari Universitas Gadjah Mada; Dr. Selly Riawanti, dari Universitas Padjadjaran, serta praktisi antropologi Dr Kartini Sjahrir.
Pertemuan dengan Presiden Jokowi Widodo merupakan langkah lanjutan Gerakan AUI, yang pada pertengahan  Desember silam telah menggelar konferensi pers dan  mendeklarasikan pernyataan sikap dan seruan terkait semakin buruknya kondisi kebinekaan dan kian meluasnya intoleransi dalam masyarakat. Pendeklarasian pernyataan sikap diselenggarakan simultan di Jakarta dan beberapa kota lain di Indonesia serta di Den Haag, oleh para antropolog Indonesia yang tinggal di Belanda. Dokumen pernyatan sikap berjudul “Darurat Keindonesiaan” ditandatangani oleh lebih dari 300 antropolog dari seluruh Indonesia.
       
Rekomendasi                                                                                                                                                        
Dalam naskah rekomedasi yang diserahkan kepada Presiden, para antropolog antara lain menyatakan mendesaknya peningkatan peran negara dalam mengendalikan dan menjaga agar tak  terjadi pemaksaan cara hidup dari satu golongan kepada golongan lain. Sesuai Pancasila, negara harus dapat menjamin kebebasan setiap warga negara untuk dapat mengekspresikan identitas dengan cara yang beragam berdasarkan kesetaraan.
Peningkatan upaya percepatan pemerataan penguasaan sumber daya sebagimana yang telah dilakukan pemerintah saat ini adalah rekomendasi lain yang disampaikan para antropolog untuk menimalisasi intoleransi.  “Pemerintah perlu memastikan bahwa upaya ini betul-betul terlaksana sebagai pilihan rasional untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengatasi kesenjangan yang dapat menimbulkan gejolak sosial,” papar Dr Suraya Afif, antropolog lain yang juga hadir di Istana, kemarin.

Rekomendasi selanjutnya adalah, perlunya pemerintah meninjau ulang berbagai peraturan perundangan dan kebijakan yang belum mempertimbangkan keberadaan dan kepentingan kelompok-kelompok suku, agama, dan kelompok minoritas lainnya, termasuk korban-korban akibat perbedaan pandangan politik, dan pengungsi korban konflik  internasional.
Untuk menumbuh-kembangkan budaya toleransi, Pemerintah  juga disarankan agar  memberi disinsentif atau tindakan hukum  pada para pelaku tindakan intoleran dan, sebaliknya, memberikan insentif  atau penghargaan bagi warga negara, pejabat, atau kelompok masyarakat yang telah menunjukkan sikap toleransi. Misalnya, dengan menganugerahi daerah atau kepala daerah yang dinilai memiliki tingkat toleransi paling tinggi.

Kepada Presiden, para antropolog, pun menyampaikan bahwa untuk memastikan terpeliharanya kehidupan berbangsa dan bernegara yang Bhinneka Tunggal Ika, Pemerintah perlu memakai perspektif sosial budaya dalam seluruh kegiatan pemerintahan dan pembangunan. “Pemerintah harus menjamin tersedianya kapasitas lembaga-lembaga pemerintahan untuk menerapkan perspektif sosial budaya sejak perencanaan, pelaksanaan, sampai ke evaluasi pemerintahan dan pembangunan,” ujar Yando Zakaria lagi.

Jakarta, Senin 16 Januari 2017


12 Antropolog Indonesia yg hadir pada saat pertemuan dgn Presiden Jokowi :

1. Prof. Dr. Amri Marzali, Gurubesar Antropologi Universitas Indonesia, ahli Antropologi Perdesaan, dan penandatangan Pernyataan Sikap Gerakan Antropolog untuk Indonesia di Jakarta;

2. Prof. Dr. P.M. Laksono, Gurubesar Antropologi Universitas Gadjah Mada, ahli Antropologi Budaya dan Agama, dan penandatangan Pernyataan Sikap Gerakan Antropolog untuk Indonesia di Yogyakarta;

3. Prof. Dr. Sulistyowati Irianto, Gurubesar Antropologi Universitas Indonesia, ahli Antropologi Hukum dan Gender, dan penandatangan Pernyataan Sikap Gerakan Antropolog untuk Indonesia di Jakarta;

4. Dr. Kartini Sjahrir-Pandjaitan, ahli Antropologi Ekonomi, dan Penandatangan Pernyataan Sikap Gerakan Antropolog untuk Indonesia di Jakarta;

5. Prof. Dr. Pawennari Hijjang, Gurubesar Antropologi Universitas Hassanuddin, ahli Antropologi Politik dan Hubungan Antar-suku bangsa, Pengurus Asosiasi Antropologi Indonesia, Penandatangan Pernyataan Sikap Gerakan Antropolog untuk Indonesia dari Makassar;

6. Dr. Selly Riawanti, Pengajar Antropologi Universitas Padjajaran, ahli Antropologi Pendidikan dan Perkotaan; dan penandatangan Pernyataan Sikap Gerakan Antropolog untuk Indonesia di Badung;

7. Surraya Afiff, Ph.D. Pengajar Antropologi Universitas Indonesia, ahli Antropologi Lingkungan dan Agraria, penandatangan Pernyataan Sikap Gerakan Antropolog untuk Indonesia dari Jakarta;

8. Dedi S. Adhuri, Ph.D., Peneliti Utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), ahli Antropologi Maritim, dan Penandatangan Pernyataan Sikap Gerakan Antropolog untuk Indonesia dari Jakarta;

9. Dr. Bambang Hudayana, Pengajar Antropologi Universitas Gadjah Mada, Ahli Antropologi Sosial dan Resolusi Konflik; Pengurus Asosiasi Departemen/Jurusan Antropologi Seluruh Indonesia, dan Penandatangan Pernyataan Sikap Gerakan Antropolog untuk Indonesia dari Yogyakarta;

10. Drs. Mulayawan Karim, Praktisi Antropologi, Wartawan Senior, penggagas Forum Kajian Antropologi Indonesia, dan Penandatangan Pernyataan Sikap Gerakan Antropolog untuk Indonesia di Jakarta;

11. Dra. Dian Rosdiana, Praktisi Antropologi, ahli Antropologi untuk perubahan perilaku dan komunikasi, Sekretaris Umum Asosiasi Antropologi Indonesia, dan penandatangan Pernyataan Sikap Gerakan Antropolog untuk Indonesia dari Jakarta;

12. Drs. R. Yando Zakaria, Praktisi Antropologi pemerhati masyarakat adat, desa, dan agraria, Penggagas Gerakan Antropolog untuk Indonesia yang Bineka dan Inklusif.